Pengarusutamaan gender (PUG) telah menjadi isu dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan guna peningkatan kapasitas lembaga dalam memainkan peran strategis dalam suatu perencanaan kegiatan. PUG merupakan salah satu strategi pembangunan yang dilakukan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender. PUG dilakukan dengan pengintegrasian permasalahan, aspirasi, kebutuhan, dan permasalahan perempuan dan laki-laki yang harus dimasukkan ke dalam perencanaan, pelaksanaan,  pemantauan, dan evaluasi dari seluruh kebijakan di berbagai  bidang kehidupan dan pembangunan. Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional mengamanatkan kepada seluruh kementerian dan lembaga untuk mengintegrasikan gender pada setiap tahapan proses pembangunan.

Dinas Kelautan dan Perikanan DIY bersama OPD pengampu bidang kelautan perikanan di kabupaten/kota berkesempatan mengikuti workshop yang diadakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan terkait implementasi PUG sektor kelautan dan perikanan di Hotel Phoenix, Yogyakarta pada tanggal 11-12 Agustus 2022. Dalam kesempatan ini peserta juga melakukan kunjungan lapangan untuk melihat langsung implementasi PUG di Mina Ngremboko dan Kampung Mina Padi Samberembe. 90 persen warga bermata pencaharian di perikanan yang dikelola satu pintu oleh kelompok. Prinsip pengelolaan dari P2MKP Mina Ngremboko ini adalah pemberdayaan masyarakat. Penerapan prinsip ini bertujuan untuk membuat masyarakat menjadi produktif. Dalam pelaksanaannya, dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok bapak-bapak memiliki peran dalam mengolah lahan (pembenihan, pendederan, maupun pembesaran). Kelompok ibu-ibu berperan mengolah hasil panen ikan menjadi crispy ikan, abon ikan, nugget, dan sebagainya. Tidak ketinggalan kelompok pemuda yang berperan dalam pemasaran hasil ikan dan pengembangan wisata mina. “Besaran produksi yang dihasilkan oleh anggota P2MKP Mina Ngremboko dari benih nila saat masa pandemi rata-rata sekitar 3-4 juta ekor per bulan, namun sebelum pandemi  bisa mencapai 7-8 juta ekor per bulan. Produksi ikan konsumsi seperti lele dapat menghasilkan 1,5 – 2 ton per hari dengan omzet mencapai milyaran rupiah” ungkap Saptono yang merupakan pengelola P2MKP (Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan). Dusun Bokesan menjadi daya tarik wisatawan untuk belajar langsung terkait proses budidaya ikan. Selain itu, terdapat juga kolam renang yang dapat dimanfaatkan sebagai wahana bermain bagi anak-anak.

“Sekarang dalam 1 kelompok ini ada 62 anggota dan hamparan keseluruhan di saat kemarau ini kita bisa mencapai 20 hektar. Tapi nanti kalau sudah musim hujan itu bisa 35 bahan 40 hektar dalam satu kawasan, baik itu pembenihan, pendederan, sampai di pembesaran,” ungkap Saptono. Terlihat pembagian peran yang porposional antar anggota kelompok baik laki-laki dan perempuan dalam mendukung usaha perikanan. Penerapan prinsip pemberdayaan masyarakat ini mampu mengurangi adanya pengangguran disekitar sehingga tercipta suasana yang produktif, rukun, dan saling memberikan manfaat bagi sekitar. Contoh keseimbangan, keadilan peran dan tanggung jawab inilah yang menjadi fokus untuk diperhatikan dalam penyelenggaraan pembangunan kelautan dan perikanan dilihat dari perspektif gender.