Dinas Kelautan dan Perikanan DIY mengadakan kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan terhadap pelaksanaan kegiatan pengkayaan sumberdaya ikan lokal pada Rabu, 16 Maret 2022. Pertemuan tersebut diadakan di Ruang Arwana Dinas Kelautan dan Perikanan DIY. Pertemuan tersebut mempertemukan perwakilan penerima hibah pengkayaan ikan lokal pada tahun 2020 dan tahun 2021. Dalam acara tersebut, jumlah peserta yang hadir sebanyak 36 perwakilan kelompok. Selain kelompok penerima hibah, kegiatan pengkayaan ikan lokal juga turut dihadiri oleh Sekertaris Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, Kepala Bidang Kelautan, Pesisir dan Pengawasan, Kepala Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya, Kepala Seksi Pengembangan Budidaya Air Tawar BPTPB, Sub Koordinator Program dan Kegiatan, serta narasumber pembahas dari Universitas Gajah Mada, Dr. Bambang Retnoaji.

Acara monitoring dan evaluasi kegiatan pengkayaan sumberdaya ikan lokal dibuka oleh Sekertaris Dinas Kelautan dan Perikanan DIY. R Hery Sulistio Hermawan, S.Pi.,M.T. membuka acara sekaligus menjelaskan pentingnya menjaga ekosistem perairan. “Kelestarian ekosistem akan berdampak kepada kesejahteraan masyarakat sekitar,” jelas Hery. Dirinya juga turut mengapresiasi gerakan masyarakat dalam menjaga kelestarian ekosistem. “Kami turut berterimakasih kepada Bapak/Ibu semua karena telah berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan perairan,” katanya. Acara selanjutnya adalah paparan dari pemateri dari Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada, Dr. Bambang Retnoaji. Dalam paparanya, dirinya menjelaskan pentingnya kelestarian ekosistem perairan khususnya populasi ikan lokal. Menurutnya, sumberdaya ikan lokal di Indonesia merupakan terbesar di Dunia dengan keragaman spesies hingga 440 spesies endemik air tawar dan 140 spesies ikan laut.

Dr. Bambang Retnoaji juga menjelaskan bahwa kondisi saat ini status ikan endemik di Indonesia juga cukup mengkhawatirkan dengan 22 jenis terancam punah (endangered)  dan 15 jenis dengan status kritis (critical endangered). Dirinya juga mencontohkan salah satu press release dari BKIPM Kementerian Kelautan dan Perikanan bahwa 80 persen populasi di Waduk Sermo adalah ikan invasing dengan jenis red devil. Oleh karena itu maka pelestarian lingkungan perairan sangat penting dan membutuhkan peran aktif dari masyarakat. Paradigma masyarakat terhadap kegiatan restocking harus mulai berubah dan tidak melakukan penebaran ikan invasing (ikan lele, ikan nila, arapaima, piranha, dsb) ke perarian umum. Selain itu, ekosistem perairan juga harus disesuaikan untuk melestarikan ikan lokal yang memiliki kebiasaan untuk ruaya seperti ikan sidat. Bendungan harus difasilitasi ruang untuk ikan ruaya lokal untuk dapat bereproduksi guna menunjang kelestarianya.

Di akhir paparan, Dr. Bambang Retnoaji juga mengajak masyarakat untuk dapat membudidayakan ikan lokal, selain bernilai ekonomis tinggi juga turut mendukung pelestarian lingkungan perairan. “Saya memprediksi bahwa ikan lokal akan dapat berjaya di negeri sendiri suatu saat nanti.”tegasnya. Monitoring dan evaluasi kegiatan pengkayaan sumberdaya ikan lokal di tutup oleh pengisian quisioner dan penegasan komitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan perairan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara tersebut langsung dipimpin oleh Sekertaris Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, R Hery Sulistio Hermawan, S.Pi.,M.T.