Pembangunanan Perikanan dan Kelautan merupakan bagian integral dari pembangunanan ekonomi secara keseluruhan dan harus menunjang terwujudnya perekonomian yang maju, efisien dan tangguh yang dicirikan oleh kemampuan dalam mensejahterakan khususnya pembudidaya tambak dan nelayan sekaligus meningkatkan kemandirian serta kemampuannya dalam mendorong sektor perikanan pada umumnya. Pembangunan Perikanan dan Kelautan di Indonesia ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan. Salah satu upaya yang ditempuh untuk mewujudkan harapan tersebut adalah meningkatan produksi dan produktifitas usaha perikanan untuk mencapai swasembada pangan berprotein dalam rangka meningkatkan pendapatan sekaligus perbaikan gizi keluarga.

Peningkatan produksi perikanan dan kelautan dapat dilakukan melalui kegiatan penangkapan dan yang terpenting adalah kegiatan budidaya. Dalam hal ini usaha budidaya udang merupakan salah satu alternatif yang penting, karena dapat memanfaatkan potensi lahan yang tersedia secara optimal dan menguntungkan serta memperhatikan kelestarian sumbernya. Pembangunan usaha perikanan budidaya dituntut maju dan berkembang luas. Beranjak dari tahun 2009 produksi perikanan budidaya secara nasional sebesar 70 % setiap tahunnya guna mencapai target produksi yang diharapkan mencapai 353 % pada tahun 2015.

Pengembangann usaha perikanan budidaya sangat tergantung kepada ketersediaan induk unggul dan benih berkualitas. Potensi sumberdaya perikanan budidaya cukup besar dengan aneka jenis ikan dan biota air laut yang bernilai ekonomis memungkinkan untuk dibudidayakan, namun demikian pemanfaatanya belum dimaksimalkan sepenuhnya sehingga kontribusi terhadap pembangunan dan perekonomian pada umumnya serta peningkatan taraf hidup masyarakat pembudidaya ikan secara khusus belum optimal.

Beberapa aspek yang menyebabkan hasil budidaya tambak tidak maksimal, salah satu isu strategis adalah terbatasnya Pengetahuan dan Teknologi budidaya yang dimiliki bagi para pembudidaya tambak itu sendiri. Keterbatasan pengetahuan dan teknologi ini berakibat pada kesulitan mereka untuk dapat meningkatkan hasil produksi tambak persatuan luas. Hal ini menjadi cerminan bagi petugas Perikanan dalam hal penyeberluasan/penyuluhan bagi pembudidaya tambak. Beberapa kemungkinan penyebab keterbatasan pengetahuan dan teknologi petani tambak adalah :

  • Terbatasnya jumlah dan kapasitas pengetahuan tenaga pendamping yang dimiliki oleh Dinas terkait ( Dinas Perikanan dan Kelautan, Badan Diklat Dll) dalam melakukan penyuluhan budidaya di lapangan.
  • Kurangnya/terputusnya koordinasi dari Instansi terkait dalam melakukan sosialisasi setiap Teknologi baru yang dihasilkan.
  • Secara umum petani tambak mempunyai keengganan untuk menerima teknologi budidaya baru, yang belum dipraktekkan/dilihat secara langsung oleh petani di daerah tempat usahanya. Hal ini disebabkan karena adanya ketakutan dan keraguan mengenai tepat tidaknya teknologi tersebut dalam meningkatkan produktivitas usahanya. Oleh karena itu perlu dilakukan Diseminasi teknologi budidaya bagi petani oleh petugas perikanan.
  • Kurangnya modal yang dimiliki petani untuk memenuhi secara infrastruktur (Jalan Inspeksi, saluran Main Canal umum, Pintu pengendali umum, Drainase umum), sebagai konsekuensi dari penggunaan teknologi baru tersebut.

Adapun faktor-faktor yang mendukung produktifitas budidaya tambak antara lain :

  1. Potensi sumberdaya perikanan budidaya cukup besar dengan aneka jenis ikan dan biota air laut bernilai ekonomis (Udang, Ikan kerapu, rumput laut dll) yang memungkinkan untuk dibudidayakan.
  2. Lahan untuk usaha budidaya yang tebentang luas di di perairan pantai Indonesia. 
  3. Sumber daya manusia serta tenaga kerja yang relative banyak dan murah.

Secara umum biaya adalah sesuatu atau sejumlah uang yang dikeluarakan/dikorbankan guna mencapai suatu tujuan. Tujuan tersebut dapat diartikan sebagai pengorbanan barang atau jasa. Adapun dilihat secara khusus biaya tersebut dapat dibagi menjadi 2 (dua) investasi yaitu Biaya Tetap (fixed cost) dan Biaya Variabel (variable cost).

Biaya Tetap merupakan biaya yang besarnya tidak akan dipengaruhi oleh tingkat operasi pada periode waktu tertentu. Biaya ini harus dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan teknis meskipun tidak operasional (sedang tidak operasional). Biaya ini selalu dihubungkan dengan usia teknis sarana atau prasarana yang dipakai serta umur pakai yang berlaku lebih dari satu tahun penggunaannya. Adapun biaya tetap dalam kaitan dengan pemeliharaan udang dan ikan ditambak adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk penyediaan peralatan-peralatan yang akan dipergunakan untuk operasional budidaya tersebut, misalnya : sewa tambak, pompa air, perbaikan konstruksi tambak, pembuatan pintu air, mekanisasi lainnya (kincir), peralatan laboratorium, peralatan sampling, peralatan panen dll

Biaya Variabel merupakan biaya yang besarnya bervariasi mengikuti secara proposional dengan jumlah produk yang dihasilkan, biaya variabel akan nol/tidak ada apabila produksinya nol atau tidak dilakukan kegiatan usaha. Biaya variabel ini adalah biaya yang habis dalam satu periode pemeliharaan. Pembiayaan tergantung dari tingkat produksi yang akan dihasilkan serta tingkat teknologi yang diterapkan (tradisionil, teknologi madya serta teknologi intensif).

Pengertian Pendapatan Usaha merupakan hasil penjualan produk yang hampir semuanya jenis ikan atau udang. Dari tingkat usaha ada 3 indikator untuk mengukur tingkat keuntungan yaitu : 

  1. Keuntungan Operasional, Pendapatan Bersih dan Keuntungan bersih.
  2. Keuntungan Operasional diartikan sebagai perbedaan antara pendapatan kotor dengan biaya variabel. 
  3. Keuntungan Operasional yang positif akan menjamin kelangsungan operasional kegiatan usaha tambak dalam jangka pendek.

Pendapatan Bersih diartikan sebagai pendapatan yang diperoleh dengan mengurangi biaya tetap kedalam keuntungan operasional. Besarnya pendapatan bersih ini akan bisa dipergunakan untuk apa saja tanpa mempengaruhi operasional jangka panjang. Keuntungan Bersih dihitung dari pendapatan kotor dikurangi dengan biaya total. Keuntungan bersih ini dianggap sebagai indicator keuntungan dan prospek operasi dalam jangka panjang. Keuntungan bersih adalah syarat utama yang akan menjamin pengoperasian tambak dalam jangka panjang.

Pengertian pendapatan bagi para petani tambak adalah dari hasil penjualan produknya (ikan atau Udang). Dengan jalan mengalikan hasil produksi dengan harga jual akan diperoleh pendapatan hasil. Adapun pengertian keuntungan bersih, adalah pendapatan hasil dikurangi dengan pengeluaran biaya variabel. 

Sedangkan dalam menghitung tingkat keuntungan bersih dalam usaha budidaya ini dapat diketahui dengan menghitung besarnya pendapatan (Produksi x Harga Jual) dikurangi dengan  Biaya Total (Biaya penyusutan + biaya operasional). Sehingga dapat diketahui berapa besar tingkat keuntungan yang dicapai pada tahun tersebut. Perhitungan ini dipergunakan untuk kelanjutan usaha pada tahap berikutnya. Oleh karena itu dalam menentukan tingkat usaha, kita harus mengetahui berapa besar keuntungan yang dapat dicapai melaui perhitungan Rugi – Laba.  Sumber : Usaha UMKM/UKM thofan pradana  

(Fishprog,2016).